Harapan Indonesia untuk meraih gelar Masters di ajang bulutangkis musim 2018 hanyalah angan-angan belaka. Akhir-akhir ini pemain dari regu tunggal putra, ganda putra, ganda putri dan ganda campuran belum pernah melangkah ke final, apalagi untuk meraih Masters di ajang bulutangkis.

Mantan Juara Bulutangkis Indonesia (ka.bid PBSI) Susi Susanti - Sumber Gambar

Indonesia menurunkan sebanyak empat pebulutangkis yang berlaga di ajang Indonesia Masters, yakni Fitriani, Hanna Ramadini, Dinar Dyah Ayustine, dan Gregoria Mariska, hanya nama Fitriani yang mampu menembus babak kedua. Fitriani kalah dua set langsung atas pemain asal Thailand dengan skor 17-21 , 16-21, sedangkan, tiga rekan lainnya langsung kalah di babak pertama.

Melihat hasil perkembangn bulutangkis Indonesia yang semakin menurun membuat kepala bidang pembinaan dan prestasi PBSI, Susi Susanti pun angkat bicara. Menurut mantan juara Olimpiade 1992 itu mengatakan, sektor tunggal putri memang jauh tertinggal. Jarak regenerasi yang terlalu jauh menjadi salah satu alasan di samping kurangnya potensi dari pemain Indonesia.

Pebulu tangkis tunggal putri nasional Indonesia, Fitriani, Nozomi Okuhara, pada laga babak kedua turnamen All England Terbuka 2018 di Arena Birmingham, Birmingham, Inggris, Kamis (15/3/2018) - Sumber Gambar
"Terus terang untuk tunggal putri kita harus akui, dari semua sektor, tunggal putri yang paling tertinggal. Ini menjadi satu pekerjaan rumah. Kalau saya bilang, kita memang kurang bibit untuk putri karena kita pernah hilang satu generasi dan untuk menaikkan lagi memang butuh waktu," ujar Susi Susanti.

Tak hanya itu, Susi juga menyoroti terkait tidak adanya kemauan dari para pemain muda untuk berkerja dan latihan lebih keras. Menurutnya ada beberapa nama yang memiliki potensi, namun tak sepenuh hati menjalani latihan, begitu pula sebaliknya. Pola pikir ini yang harus diubah oleh semua pihak terutama PBSI sebagai federasi bulutangkis Indonesia.

Tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung saat menghadapi pemain Jepang, Akana Yamaguchi - Sumber Gambar
"Selain itu, bibit-bibit saat ini memang ada potensi tapi tidak ada kemauan. Yang lain ada kemauan tapi tidak ada potensi. Jadi, sebetulnya bakat dan kemauan itu beriringan dan itu yang menjadi tugas kita bagaimana mengubah mindset untuk menjadi atlet yang ulet, berani di lapangan. Itu yang kita cari. Bisa dilihat itu alasan dari hasil kita selalu kalah," urain Susi Susanti secara detail.
"Jadi sekarang tidak bisa santai, atau tawar-menawar saat latihan. Kita harus mengejar ketertinggalan, harus kerja keras. Tidak ada istilah santai atau cari aman. Bisa kita lihat memang ada beberapa yang punya pengalaman tapi secara potensi memang masih kurang. Tapi itu masih bisa dimaksimalkan," tutup Susi Susanti.

Sumber referensi: www.indosport.com


Terima kasih telah mengunjungi postingan saya, dan saya harap Anda menyukainya;
Salam, @tarjuddin.