Bulutangkis / badminton

rahadian
Membandingkan Badminton dengan Tennis
Aturan permainan olahraga tenis dengan badminton memang tak jauh berbeda. Setiap pemainnya memegang raket. Ia mesti berupaya mengarahkan bola dengan raketnya agar lawannya tak dapat mengembalikannya. Misalnya, men-smashnya ke suatu sudut lapangan sehingga lawannya tak dapat menjangkaunya. Bola pun tak boleh mengenai net. Dapat dimainkan oleh pria dan wanita juga, ataupun single maupun double. Dalam beberapa hal, terdapat perbedaan kedua olahraga ini. Berikut perbedaannya. Gambar 1. Tenis dan Badminton Raket dan Bola. Pernahkah kita memegangnya? Berat raket teniss tiga kali berat. Beratnya biasanya berkisar diantara 240 hingga 370 gram. Selain itu, kekencangan senarnya disetel agar jauh lebih kuat. Tentu saja, karena digunakan untuk memukul bola yang jauh lebih berat dan lebih padat dibandingkan shuttlecock. Desain keduanya pun berbeda. Tentu saja, karena digunakan untuk memukul bola yang berkarateristik berbeda. Bola tenis 10 kali lebih berat dibandingkan shuttlecock. Beratnya berkisar diantara 56 hingga 59 gram. Mengacu kepada berat raket dan bola tenis, untuk bermain olahraga ini memang sangat membutuhkan stamina dan kekuatan fisik yang lebih bugar dibandingkan bermain badminton. Dan lagi, seorang petenis pun mesti memukul bola dengan sangat keras dengan fisiknya. Tanpa stamina dan fisik yang bugar, biasanya lawan mudah mengalahkannya. Sepatu Kedua Olahraga ini Pun Berbeda. Sepatu tenis dirancang sedemikian rupa agar petenis lebih nyaman dan leluasa berlari baik secara vertikal maupun horizontal. Seorang petenis mesti berlari kesana-kemari saat bertanding. Sedangkan sepatu badminton dirancang sedemikian rupa agar pebadminton dapat lebih nyaman dan leluasa meloncat dan bergerak secara vertikal maupun horizontal. Memang, seorang pebadminton lebih banyak meloncat saat bertanding untuk men-smash shuttlecock dibandingkan petenis yang meloncat untuk men-smash bola. Ukuran Lapangan. Ukuran lapangan tenis lebih besar dibandingkan badminton. Pemainnya mesti menjangkau area lapangan yang lebih luas. Karenanya, sekali lagi, membutuhkan stamina dan fisik yang bugar berlari-lari di atas lapangan untuk mengejar dan mengembalikan bola ke lawannya. Terlebih, menenteng raket yang lebih berat. Fokus Permainan. Permainan badminton biasanya berjalan lebih cepat. Hal ini menjadi salah satu keseruannya. Misalnya, seorang pebadminton yang men-smash shuttlecock berkali-kali namun masih dapat dikembalikan lawannya. Nah, dengan demikian, dibandingkan olahraga tenis, olahraga badminton, lebih membutuhkan akurasi, konsentrasi, kegesitan dan kelenturan tubuh. Tanpa hal-hal ini, seorang pebadminton mudah dikalahkan. Perubahan skornya pun biasanya lebih cepat. Sedangkan seorang petenis, seperti yang sudah disebutkan, sangat membutuhkan stamina dan kekuatan fisik yang lebih bugar. Demikian, perbedaan tenis dengan badminton. Masing-masing menawarkan nilai-nilai dan tantangan olahraga yang berbeda. Bagi masyarakat Indonesia umumnya, lebih gemar bermain badminton. Sedangkan di Amerika dan di kebanyakan negara Eropa, tenis memang lebih populer. Semoga tulisan ini menambah wawasan kita tentang seluk beluk dan seputar kedua olahraga tersebut.
0.00
4
0

rahadian
Membandingkan Badminton dengan Tennis
Aturan permainan olahraga tenis dengan badminton memang tak jauh berbeda. Setiap pemainnya memegang raket. Ia mesti berupaya mengarahkan bola dengan raketnya agar lawannya tak dapat mengembalikannya. Misalnya, men-smashnya ke suatu sudut lapangan sehingga lawannya tak dapat menjangkaunya. Bola pun tak boleh mengenai net. Dapat dimainkan oleh pria dan wanita juga, ataupun single maupun double. Dalam beberapa hal, terdapat perbedaan kedua olahraga ini. Berikut perbedaannya. Gambar 1. Tenis dan Badminton Raket dan Bola. Pernahkah kita memegangnya? Berat raket teniss tiga kali berat. Beratnya biasanya berkisar diantara 240 hingga 370 gram. Selain itu, kekencangan senarnya disetel agar jauh lebih kuat. Tentu saja, karena digunakan untuk memukul bola yang jauh lebih berat dan lebih padat dibandingkan shuttlecock. Desain keduanya pun berbeda. Tentu saja, karena digunakan untuk memukul bola yang berkarateristik berbeda. Bola tenis 10 kali lebih berat dibandingkan shuttlecock. Beratnya berkisar diantara 56 hingga 59 gram. Mengacu kepada berat raket dan bola tenis, untuk bermain olahraga ini memang sangat membutuhkan stamina dan kekuatan fisik yang lebih bugar dibandingkan bermain badminton. Dan lagi, seorang petenis pun mesti memukul bola dengan sangat keras dengan fisiknya. Tanpa stamina dan fisik yang bugar, biasanya lawan mudah mengalahkannya. Sepatu Kedua Olahraga ini Pun Berbeda. Sepatu tenis dirancang sedemikian rupa agar petenis lebih nyaman dan leluasa berlari baik secara vertikal maupun horizontal. Seorang petenis mesti berlari kesana-kemari saat bertanding. Sedangkan sepatu badminton dirancang sedemikian rupa agar pebadminton dapat lebih nyaman dan leluasa meloncat dan bergerak secara vertikal maupun horizontal. Memang, seorang pebadminton lebih banyak meloncat saat bertanding untuk men-smash shuttlecock dibandingkan petenis yang meloncat untuk men-smash bola. Ukuran Lapangan. Ukuran lapangan tenis lebih besar dibandingkan badminton. Pemainnya mesti menjangkau area lapangan yang lebih luas. Karenanya, sekali lagi, membutuhkan stamina dan fisik yang bugar berlari-lari di atas lapangan untuk mengejar dan mengembalikan bola ke lawannya. Terlebih, menenteng raket yang lebih berat. Fokus Permainan. Permainan badminton biasanya berjalan lebih cepat. Hal ini menjadi salah satu keseruannya. Misalnya, seorang pebadminton yang men-smash shuttlecock berkali-kali namun masih dapat dikembalikan lawannya. Nah, dengan demikian, dibandingkan olahraga tenis, olahraga badminton, lebih membutuhkan akurasi, konsentrasi, kegesitan dan kelenturan tubuh. Tanpa hal-hal ini, seorang pebadminton mudah dikalahkan. Perubahan skornya pun biasanya lebih cepat. Sedangkan seorang petenis, seperti yang sudah disebutkan, sangat membutuhkan stamina dan kekuatan fisik yang lebih bugar. Demikian, perbedaan tenis dengan badminton. Masing-masing menawarkan nilai-nilai dan tantangan olahraga yang berbeda. Bagi masyarakat Indonesia umumnya, lebih gemar bermain badminton. Sedangkan di Amerika dan di kebanyakan negara Eropa, tenis memang lebih populer. Semoga tulisan ini menambah wawasan kita tentang seluk beluk dan seputar kedua olahraga tersebut.
0.00
4
0

rahadian
Membandingkan Badminton dengan Tennis
Aturan permainan olahraga tenis dengan badminton memang tak jauh berbeda. Setiap pemainnya memegang raket. Ia mesti berupaya mengarahkan bola dengan raketnya agar lawannya tak dapat mengembalikannya. Misalnya, men-smashnya ke suatu sudut lapangan sehingga lawannya tak dapat menjangkaunya. Bola pun tak boleh mengenai net. Dapat dimainkan oleh pria dan wanita juga, ataupun single maupun double. Dalam beberapa hal, terdapat perbedaan kedua olahraga ini. Berikut perbedaannya. Gambar 1. Tenis dan Badminton Raket dan Bola. Pernahkah kita memegangnya? Berat raket teniss tiga kali berat. Beratnya biasanya berkisar diantara 240 hingga 370 gram. Selain itu, kekencangan senarnya disetel agar jauh lebih kuat. Tentu saja, karena digunakan untuk memukul bola yang jauh lebih berat dan lebih padat dibandingkan shuttlecock. Desain keduanya pun berbeda. Tentu saja, karena digunakan untuk memukul bola yang berkarateristik berbeda. Bola tenis 10 kali lebih berat dibandingkan shuttlecock. Beratnya berkisar diantara 56 hingga 59 gram. Mengacu kepada berat raket dan bola tenis, untuk bermain olahraga ini memang sangat membutuhkan stamina dan kekuatan fisik yang lebih bugar dibandingkan bermain badminton. Dan lagi, seorang petenis pun mesti memukul bola dengan sangat keras dengan fisiknya. Tanpa stamina dan fisik yang bugar, biasanya lawan mudah mengalahkannya. Sepatu Kedua Olahraga ini Pun Berbeda. Sepatu tenis dirancang sedemikian rupa agar petenis lebih nyaman dan leluasa berlari baik secara vertikal maupun horizontal. Seorang petenis mesti berlari kesana-kemari saat bertanding. Sedangkan sepatu badminton dirancang sedemikian rupa agar pebadminton dapat lebih nyaman dan leluasa meloncat dan bergerak secara vertikal maupun horizontal. Memang, seorang pebadminton lebih banyak meloncat saat bertanding untuk men-smash shuttlecock dibandingkan petenis yang meloncat untuk men-smash bola. Ukuran Lapangan. Ukuran lapangan tenis lebih besar dibandingkan badminton. Pemainnya mesti menjangkau area lapangan yang lebih luas. Karenanya, sekali lagi, membutuhkan stamina dan fisik yang bugar berlari-lari di atas lapangan untuk mengejar dan mengembalikan bola ke lawannya. Terlebih, menenteng raket yang lebih berat. Fokus Permainan. Permainan badminton biasanya berjalan lebih cepat. Hal ini menjadi salah satu keseruannya. Misalnya, seorang pebadminton yang men-smash shuttlecock berkali-kali namun masih dapat dikembalikan lawannya. Nah, dengan demikian, dibandingkan olahraga tenis, olahraga badminton, lebih membutuhkan akurasi, konsentrasi, kegesitan dan kelenturan tubuh. Tanpa hal-hal ini, seorang pebadminton mudah dikalahkan. Perubahan skornya pun biasanya lebih cepat. Sedangkan seorang petenis, seperti yang sudah disebutkan, sangat membutuhkan stamina dan kekuatan fisik yang lebih bugar. Demikian, perbedaan tenis dengan badminton. Masing-masing menawarkan nilai-nilai dan tantangan olahraga yang berbeda. Bagi masyarakat Indonesia umumnya, lebih gemar bermain badminton. Sedangkan di Amerika dan di kebanyakan negara Eropa, tenis memang lebih populer. Semoga tulisan ini menambah wawasan kita tentang seluk beluk dan seputar kedua olahraga tersebut.
0.00
4
0
0.00
7
0
0.00
7
0
0.00
7
0
nasrycibro
Jonatan Christie persembahkan medali emas bagi Indonesia
jakarta, 28/8 (Antara) - Tunggal putra Indonesia Jonatan Christie mempersembahkan medali emas bagi Indonesia setelah menaklukkan pemain asal Chinese Taipei Chou Tien Chen, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa siang. Jonatan Christie menjawab penantian panjang Indonesia selama 12 tahun dengan menjuarai nomor tunggal putra Asian Games 2018 setelah kemenangan Taufik Hidayat tahun 2006 lalu. Jonatan harus melakoni tiga gim untuk meraih kemenangan dengan skor 21-18, 20-22, 21-15. Game pertama berlangsung ketat. Jonatan dan Chou Tien saling ngotot untuk mencetak angka. Kejar mengejar angka pun tidak bisa dihindarkan. Pukulan Chou Tien yang tipis melewati net gagal dikembalikan Jojo. Jojo, demikian ia akrab disapa membalas dengan smes tajam sehingga kembali unggul 9-8, dan terus unggul 13-10. Chou Tien yang merupakan juara Singapura Terbuka 2018 itu berhasil menyusul Jojo menjadi 15-15. Namun, Jojo kembali memimpin permainan 20-17. Jojo butuh satu angka lagi untuk memegang gim pertama. Tetapi pukulannya Jojo malah menabrak sehingga memberi angka bagi lawan. Chou Tien menambah angka dari smes kerasnya yang gagal dikembalikan Jojo. Pukulan Chou Tien yang menabrak net akhirnya memberikan gim pertama untuk Jonatan. Gim kedua direbut oleh Chou Tien setelah Jonatan gagal menggunakan kesempatan emas di poin kritis. Chou Tien memang tampil lebih dominan sejak awal gim kedua. Jojo tertinggal 5-10. Perlahan tapi pasti, Jojo mencoba menembus pertahanan Chou Tien dengan pukulan-pukulan tajam sehingga skor menjadi 5-11. Chou Tien masih memimpin gim kedua. Namun Jojo tidak patah semangat. Pemain berusia 20 tahun itu mengejar hingga skornya hampir menyamai lawan 11-12. Sayangnya, di gim kedua pukulan Jojo kerap kali menabrak net. Jojo kembali tertinggal 16-20. Pada poin kritis tersebut, Jojo berhasil memperpanjang nafasnya dan mencegah Chou Tien menambah satu angka. Jojo menyusul 20-20. "Jojo bisa.. Jojo bisa.. Jojo bisa" teriak ribuan peononton di Istora Senayan. Chou Tien membalas dengan smes keras yang sulit dikendalikan Jonatan. Suasana di Istora Senayan pun semakin tegang. "Abisin.. abisin.. abisin" teriak penonton. Jonatan lalu melancarkan smes keras yang menabrak net. Jonatan gagal menyelamatkan gim kedua. Skor 20-22. Gim ketiga berlangsung semakin panas. Awal gim yang berlangsung ketat berhasil diatasi Jojo. Ia memimpin skor 11-7. Jojo tidak terkejar lagi 10-17 dan meskipun Chou Tien sempat menambah beberapaangka, Jonatan akhirnya memenangkan gim ketiga. Jojo melakukan selebrasi dengan membuka bajunya. Penonton langsung berdiri memberikan tepuk tangan paling meriah untuk sang juara! "Indonesia.. Indonesia.. Indonesia" teriak penonton
0.00
0
1
nasrycibro
Jonatan Christie persembahkan medali emas bagi Indonesia
jakarta, 28/8 (Antara) - Tunggal putra Indonesia Jonatan Christie mempersembahkan medali emas bagi Indonesia setelah menaklukkan pemain asal Chinese Taipei Chou Tien Chen, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa siang. Jonatan Christie menjawab penantian panjang Indonesia selama 12 tahun dengan menjuarai nomor tunggal putra Asian Games 2018 setelah kemenangan Taufik Hidayat tahun 2006 lalu. Jonatan harus melakoni tiga gim untuk meraih kemenangan dengan skor 21-18, 20-22, 21-15. Game pertama berlangsung ketat. Jonatan dan Chou Tien saling ngotot untuk mencetak angka. Kejar mengejar angka pun tidak bisa dihindarkan. Pukulan Chou Tien yang tipis melewati net gagal dikembalikan Jojo. Jojo, demikian ia akrab disapa membalas dengan smes tajam sehingga kembali unggul 9-8, dan terus unggul 13-10. Chou Tien yang merupakan juara Singapura Terbuka 2018 itu berhasil menyusul Jojo menjadi 15-15. Namun, Jojo kembali memimpin permainan 20-17. Jojo butuh satu angka lagi untuk memegang gim pertama. Tetapi pukulannya Jojo malah menabrak sehingga memberi angka bagi lawan. Chou Tien menambah angka dari smes kerasnya yang gagal dikembalikan Jojo. Pukulan Chou Tien yang menabrak net akhirnya memberikan gim pertama untuk Jonatan. Gim kedua direbut oleh Chou Tien setelah Jonatan gagal menggunakan kesempatan emas di poin kritis. Chou Tien memang tampil lebih dominan sejak awal gim kedua. Jojo tertinggal 5-10. Perlahan tapi pasti, Jojo mencoba menembus pertahanan Chou Tien dengan pukulan-pukulan tajam sehingga skor menjadi 5-11. Chou Tien masih memimpin gim kedua. Namun Jojo tidak patah semangat. Pemain berusia 20 tahun itu mengejar hingga skornya hampir menyamai lawan 11-12. Sayangnya, di gim kedua pukulan Jojo kerap kali menabrak net. Jojo kembali tertinggal 16-20. Pada poin kritis tersebut, Jojo berhasil memperpanjang nafasnya dan mencegah Chou Tien menambah satu angka. Jojo menyusul 20-20. "Jojo bisa.. Jojo bisa.. Jojo bisa" teriak ribuan peononton di Istora Senayan. Chou Tien membalas dengan smes keras yang sulit dikendalikan Jonatan. Suasana di Istora Senayan pun semakin tegang. "Abisin.. abisin.. abisin" teriak penonton. Jonatan lalu melancarkan smes keras yang menabrak net. Jonatan gagal menyelamatkan gim kedua. Skor 20-22. Gim ketiga berlangsung semakin panas. Awal gim yang berlangsung ketat berhasil diatasi Jojo. Ia memimpin skor 11-7. Jojo tidak terkejar lagi 10-17 dan meskipun Chou Tien sempat menambah beberapaangka, Jonatan akhirnya memenangkan gim ketiga. Jojo melakukan selebrasi dengan membuka bajunya. Penonton langsung berdiri memberikan tepuk tangan paling meriah untuk sang juara! "Indonesia.. Indonesia.. Indonesia" teriak penonton
0.00
0
1
nasrycibro
Jonatan Christie persembahkan medali emas bagi Indonesia
jakarta, 28/8 (Antara) - Tunggal putra Indonesia Jonatan Christie mempersembahkan medali emas bagi Indonesia setelah menaklukkan pemain asal Chinese Taipei Chou Tien Chen, di Istora Senayan, Jakarta, Selasa siang. Jonatan Christie menjawab penantian panjang Indonesia selama 12 tahun dengan menjuarai nomor tunggal putra Asian Games 2018 setelah kemenangan Taufik Hidayat tahun 2006 lalu. Jonatan harus melakoni tiga gim untuk meraih kemenangan dengan skor 21-18, 20-22, 21-15. Game pertama berlangsung ketat. Jonatan dan Chou Tien saling ngotot untuk mencetak angka. Kejar mengejar angka pun tidak bisa dihindarkan. Pukulan Chou Tien yang tipis melewati net gagal dikembalikan Jojo. Jojo, demikian ia akrab disapa membalas dengan smes tajam sehingga kembali unggul 9-8, dan terus unggul 13-10. Chou Tien yang merupakan juara Singapura Terbuka 2018 itu berhasil menyusul Jojo menjadi 15-15. Namun, Jojo kembali memimpin permainan 20-17. Jojo butuh satu angka lagi untuk memegang gim pertama. Tetapi pukulannya Jojo malah menabrak sehingga memberi angka bagi lawan. Chou Tien menambah angka dari smes kerasnya yang gagal dikembalikan Jojo. Pukulan Chou Tien yang menabrak net akhirnya memberikan gim pertama untuk Jonatan. Gim kedua direbut oleh Chou Tien setelah Jonatan gagal menggunakan kesempatan emas di poin kritis. Chou Tien memang tampil lebih dominan sejak awal gim kedua. Jojo tertinggal 5-10. Perlahan tapi pasti, Jojo mencoba menembus pertahanan Chou Tien dengan pukulan-pukulan tajam sehingga skor menjadi 5-11. Chou Tien masih memimpin gim kedua. Namun Jojo tidak patah semangat. Pemain berusia 20 tahun itu mengejar hingga skornya hampir menyamai lawan 11-12. Sayangnya, di gim kedua pukulan Jojo kerap kali menabrak net. Jojo kembali tertinggal 16-20. Pada poin kritis tersebut, Jojo berhasil memperpanjang nafasnya dan mencegah Chou Tien menambah satu angka. Jojo menyusul 20-20. "Jojo bisa.. Jojo bisa.. Jojo bisa" teriak ribuan peononton di Istora Senayan. Chou Tien membalas dengan smes keras yang sulit dikendalikan Jonatan. Suasana di Istora Senayan pun semakin tegang. "Abisin.. abisin.. abisin" teriak penonton. Jonatan lalu melancarkan smes keras yang menabrak net. Jonatan gagal menyelamatkan gim kedua. Skor 20-22. Gim ketiga berlangsung semakin panas. Awal gim yang berlangsung ketat berhasil diatasi Jojo. Ia memimpin skor 11-7. Jojo tidak terkejar lagi 10-17 dan meskipun Chou Tien sempat menambah beberapaangka, Jonatan akhirnya memenangkan gim ketiga. Jojo melakukan selebrasi dengan membuka bajunya. Penonton langsung berdiri memberikan tepuk tangan paling meriah untuk sang juara! "Indonesia.. Indonesia.. Indonesia" teriak penonton
0.00
0
1
0.00
2
2
0.00
2
2
0.00
2
2
0.00
4
2
0.00
4
2
0.00
4
2
risyuwonoDiperbarui
Ginting AS versus Axelsen
Anthony Sinisuka Ginting, born on October 20, 1996, is the top-ranked player in Indonesia's badminton men's singles, while Viktor Axelsen is a Danish badminton player born January 4, 1994. Compared to they rank at the moment, Axelsen is ranked 1st in the world, while Ginting is ranked 13. During his badminton career, Axelsen won 294 matches, while Ginting 130 matches. Despite being ranked in the rankings but the second meeting record, before the China Open tournament, is 1-1. The first meeting of the two players, at the TOTAL BWF SUDIRMAN CUP 2017 tournament on May 24, 2017, with a victory for Ginting running in 3 sets 13-21, 21-17, 21-14. The second meeting took place some time ago at the DAIHATSU YONEX JAPAN OPEN 2018 tournament, on September 14, 2018, this time Ginting lost 2 sets straight 17-21, 15-21. A week later, the two players met for the third time at the 2018 China Open tournament, precisely on September 20, 2018. The two met in the second round. In the first round, Ginting defeated former world best player Lin Dan, and Axelsen defeated Phetpradab Khosit from Thailand. The third meeting between Ginting and Axelsen was exciting. The two players followed each other's numbers since the first set, although in the break, Axelsen got the points 11 first, Ginting finally won the first set with 21-18. The second set returned to a fierce start from the start, and Axelsen returned get points 11. After the break, Ginting regained points and outperformed the points ahead of the end of the second set. Finally, Ginting managed to close the second set with a number of 21-17, while ensuring to advance to the next round. The match lasts for 45 minutes.
0.00
3
6
risyuwonoDiperbarui
Ginting AS versus Axelsen
Anthony Sinisuka Ginting, born on October 20, 1996, is the top-ranked player in Indonesia's badminton men's singles, while Viktor Axelsen is a Danish badminton player born January 4, 1994. Compared to they rank at the moment, Axelsen is ranked 1st in the world, while Ginting is ranked 13. During his badminton career, Axelsen won 294 matches, while Ginting 130 matches. Despite being ranked in the rankings but the second meeting record, before the China Open tournament, is 1-1. The first meeting of the two players, at the TOTAL BWF SUDIRMAN CUP 2017 tournament on May 24, 2017, with a victory for Ginting running in 3 sets 13-21, 21-17, 21-14. The second meeting took place some time ago at the DAIHATSU YONEX JAPAN OPEN 2018 tournament, on September 14, 2018, this time Ginting lost 2 sets straight 17-21, 15-21. A week later, the two players met for the third time at the 2018 China Open tournament, precisely on September 20, 2018. The two met in the second round. In the first round, Ginting defeated former world best player Lin Dan, and Axelsen defeated Phetpradab Khosit from Thailand. The third meeting between Ginting and Axelsen was exciting. The two players followed each other's numbers since the first set, although in the break, Axelsen got the points 11 first, Ginting finally won the first set with 21-18. The second set returned to a fierce start from the start, and Axelsen returned get points 11. After the break, Ginting regained points and outperformed the points ahead of the end of the second set. Finally, Ginting managed to close the second set with a number of 21-17, while ensuring to advance to the next round. The match lasts for 45 minutes.
0.00
3
6
risyuwonoDiperbarui
Ginting AS versus Axelsen
Anthony Sinisuka Ginting, born on October 20, 1996, is the top-ranked player in Indonesia's badminton men's singles, while Viktor Axelsen is a Danish badminton player born January 4, 1994. Compared to they rank at the moment, Axelsen is ranked 1st in the world, while Ginting is ranked 13. During his badminton career, Axelsen won 294 matches, while Ginting 130 matches. Despite being ranked in the rankings but the second meeting record, before the China Open tournament, is 1-1. The first meeting of the two players, at the TOTAL BWF SUDIRMAN CUP 2017 tournament on May 24, 2017, with a victory for Ginting running in 3 sets 13-21, 21-17, 21-14. The second meeting took place some time ago at the DAIHATSU YONEX JAPAN OPEN 2018 tournament, on September 14, 2018, this time Ginting lost 2 sets straight 17-21, 15-21. A week later, the two players met for the third time at the 2018 China Open tournament, precisely on September 20, 2018. The two met in the second round. In the first round, Ginting defeated former world best player Lin Dan, and Axelsen defeated Phetpradab Khosit from Thailand. The third meeting between Ginting and Axelsen was exciting. The two players followed each other's numbers since the first set, although in the break, Axelsen got the points 11 first, Ginting finally won the first set with 21-18. The second set returned to a fierce start from the start, and Axelsen returned get points 11. After the break, Ginting regained points and outperformed the points ahead of the end of the second set. Finally, Ginting managed to close the second set with a number of 21-17, while ensuring to advance to the next round. The match lasts for 45 minutes.
0.00
3
6
Lebih banyak posting akan segera hadir. Tulis sendiri!