Bulutangkis

Panas

puncakbukit
Menegok Budaya Bulutangkis di Denmark
Bila berbicara mengenai salah satu negara kuat dalam bulutangkis, kita tentunya mesti membahas Denmark. Negara yang terletak di Skandinavia in selalu melahirkan banyak pebulutangkis dunia yang sering menghiasi juga turnamen-turnamen prestisius dunia. Dan juga, sangat diperhitungkan. Salah satunya yaitu Peter Gade yang tak dapat dipungkiri menjadi salah satu ikon dunia olahraga tersebut. Pebulutangkis yang telah gantung raket ini pun tergabung juga bersama Taufik Hidayat, Lee Chong Wei, Lin Dan, dan Lee Yong Dae dalam Yonex Legends. “Kami hanya memiliki 5 juta penduduk namun saya bangga kami memiliki tradisi badminton yang luar biasa”, tutur Peter. Di balik ketangguhan para pembulutangkis Denmark berlaga di atas lapangan, Peter mengutarakan beberapa hal yang menjadi kunci mengapa Denmark selalu melahirkan pemain pebulutangkis berkelas dunia. Salah satunya, pelatihan dan pendidikan sejak usia dini. Ia menuturkan bahwa usia anak-anak menjadi golden age atau momen emas untuk menjadi pebulutangkis tangguh berkelas dunia. “Saat usia 5 tahun, para pemain junior diajarkan dasar-dasar olahraga badminton, mereka dididik bagaimana olahraga ini dimainkan”, tuturnya. Ia pun menuturkan bahwa telat memulainya bila telah berusia 18 atau 19 tahun. “Sangat telat bila meminta seseorang mengganti cara dan gaya memegang raket saat usianya 18 atau 19 tahun.” Bibit-bibit potensial ini pun tersebar di beberapa klub dan juga memiliki pelatih yang berkualitas. “Semua pemain junior tergabung ke dalam klub dan dilatih oleh pelatih yang bagus dan berkualitas”. Peter pun mengungkap juga bahwa sistem klub menjadi jantung perkembangan bulutangkis negaranya. Di Denmark. terdapat sekitar 600 klub. Ada juga kompetisi untuk pemain junior dan senior. “Kami memiliki banyak pemain dari yang berusia 5 hingga 65 tahun yang bermain rutin, mereka pun mengikuti kompetisi juga”, tuturnya. “ Selain sistem klub dan kompetisi, salah satu hal penting lainnya yang sangat mendukung juga yaitu kontribusi para sukarelawan. Mereka, yang tentunya sama sekali tak mendapatkan upah, bersedia menyediakan waktu untuk mengerjakan beragam pekerjaan yang tam memberikan mereka upah. Misalnya, untuk mengurus beragam kebutuhan klub ataupun menyelenggarakan kompetisi. Peter pun mengakui bahwa sistem bulutangkis di negaranya tak akan berjalan bahkan akan runtuh tanpa kontribusi mereka. Dalam kurun waktu seminggu, muncul hingga 600.000 sukarelawan. “Mereka berkontribusi membangun olahraga ini dan akan menjadi pengalaman menarik bagi mereka”, tuturnya. Mereka pun bernaung di bawah asosiasi sukarelawan. Jumlah tersebut mencapai hingga sekitar 35% penduduk negara beribukota Koppenhagen ini Bila kita menarik point penting sekaligus sebagai kesimpulan, tak salah menyebut olahraga ini sesungguhnya telah menjadi bagian budaya masyarakat. Hal ini tentunya sangat mendukung Denmark terus melahirkan banyak pemain berkelas dunia untuk meraih beragam prestasi. Oleh: Rahadian (mas_rahadian@yahoo.co.id) Referensi:https://www.thestar.com.my/sport/badminton/2015/10/18/small-denmark-leave-big-impact-in-world-badminton/https://legends.yonex.com/ Gambar:http://www.gobadminton.in/Admin/PostIsLargeImages/P_L_698.jpg Lihat juga:Seri Steemit Puncak Bukit (https://steemit.com/steemit/@puncakbukit/seri-steemit-puncak-bukit-19-agustus-2018) Puncak Bukit (https://www.puncakbukit.net/)Laporan Olahraga (https://laporan-olahraga.blogspot.cOM/)
0.00
6
0