Pesepakbola Kolombia Andres Escobar dibunuh pada tahun 1994, beberapa hari setelah Kolombia dikalahkan Amerika Serikat dan tersingkir dari Piala Dunia 1994.

Gol bunuh diri selalu merupakan ketidakberuntungan bagi pemain yang melakukannya, tapi gol bunuh diri Andres pada 1994 berujung tragedi: gol tersebut harus dibayar dengan nyawanya.

Gol tersebut tercipta pada pertandingan antara Kolombia melawan Amerika Serikat di stadion Rose Bowl, Los Angeles. Amerika Serikat menang 1-2. Escobar mencetak gol bunuh dirinya pada menit ke 35. Diikuti oleh gol Stewart dan Valencia, namun di menit-menit akhir pertandingan Kolombia dipastikan tersingkir dari turnamen tersebut. Dan pertandingan terakhir di grup tersebut melawan Swiss yang mereka menangkan tidak mampu menolong mereka untuk lolos ke babak selanjutnya.

Escobar berusia 27 tahun pada saat itu dan dikenal sebagai 'the gentleman of football' karena karakternya sebagai pemain. Dia dibunuh di parkiran sebuah restoran di Medellin, Kolombia. Hanya 10 hari setelah gol bunuh diri tersebut tercipta. Pembunuhan tersebut dikaitkan dengan mafia judi dan kartel narkoba. Beberapa orang menganggap pembunuhan tersebut sebagai aksi politis. Seorang keluarga Escobar sejak awal menganggap bahwa judi bola dan kekhawatiran kalah lah yang memicu kekalahan Kolombia.

Selama Piala Dunia berlangsung beberapa pemain juga mengalami ancaman pembunuhan, sehingga atmosfir di tim Kolombia penuh dengan kegugupan dan ketegangan.

Pembunuhan Escobar mengejutkan seluruh negeri. Escobar adalah pemain yang dihormati dan dikagumi. Dua tahun yang lalu Kolombia dan Amerika Serikat kembali bertemu dalam pertandingan di ajang Copa America Centenario. Kedua tim mengheningkan cipta sejenak untuk menghormati Escobar.

Pada Januari tahun ini, hampir 24 tahun setelah insiden tersebut, kepolisian Kolombia menangkap Juan Santiago Gallon Henao, terduga pengedar narkoba yang terkait dengan pembunuhan tersebut.

Arikel ini diterjemahkan dari The Own-goal That Cost a Life