Piala Super Italia atau Supercoppa Italiana terus menuai kontroversi sejak penyelenggaraannya dimenangkan oleh Arab Saudi. Laga yang mempertemukan antara juara Serie A Liga Italia Juventus dengan juara Coppa Italia AC Milan ini rencananya akan digelar pada 17 Januari 2019 di King Abdullah Sports City, Jeddah.

Pihak Lega Calcio memang melelang penyelenggaraan Piala Super Italia kepada penawar tertinggi demi mendapat pemasukan, dan Arab Saudi pemenang untuk penyelenggaraan tahun 2019 ini.

Namun sesuai hukum di Arab Saudi, wanita tidak diperkenankan menonton laga ini di stadion kecuali ditemani oleh muhrimnya, yaitu pria yang haram ia nikahi sesuai hukum Islam (ayah, kakak, adik, paman kandung, kakek, anak, atau cucu). Larangan ini menimbulkan kontroversi di kalangan aktivis hak asasi manusia Italia, mereka mengecam penyelenggaraan Piala Super Italia yang bertentangan dengan prinsip kebebasan yang dianut Eropa. Seperti yang dilakukan oleh Laura Boldrini lewat akun Twitternya, ia mengaku heran mengapa wanita harus ditemani oleh pria jika ingin pergi ke stadion.

Sebetulnya wanita pergi ke stadion ditemani muhrimnya merupakan kemajuan di Arab Saudi, yang sebelumnya sama sekali tidak membolehkan wanita pergi ke stadion. Sejak Putera Mahkota Mohammed Bin Salman berkuasa di pemerintahan, ia telah mereformasi banyak hal di Arab Saudi, termasuk membolehkan wanita mengendarai mobil.

Selain soal isu pelanggaran hak perempuan, penyelenggaraan Piala Super Italia kali ini juga diwarnai dengan isu pembunuhan sadis jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi yang diduga dilakukan oleh orang-orang suruhan Putera Mahkota Mohammed Bin Salman di Kedutaan Besar Arab Saudi di Turki. Penyelenggaraan Piala Super Italia di Arab Saudi dikhawatirkan akan menjadi ajang sportswashing atau pembersihan citra Putera Mahkota di mata dunia internasional dari kasus pembunuhan tersebut melalui acara olahraga.

Olahraga memang seringkali menjadi ajang pencitraan bagi politisi, termasuk di Indonesia. Apalagi untuk olahraga populer seperti sepakbola. Tidak heran jika banyak posisi penting di dunia olahraga diduduki oleh politisi. Seperti posisi ketua PSSI, misalnya yang dijabat oleh Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi.