Sepak bola / champions league

rahadian
Teori Psikologi yang Menjelaskan Kekalahan Barcelona dari Liverpool
Keberhasilan Liverpool mengalahkan Barcelona dengan skor 4-0 di Anfield menghiasi pemberitaan. Mengundang beragam komentar juga dari banyak kalangan. Memang, banyak yang pesimis bahwa anak-anak Jurgen Klopp ini mampu membalikkan situasi di Anfield. Bagi Barcelona, kekalahan mengulang kekalahan yang sama musim lalu. Musim lalu, menghadapi AS Roma, menang 4-1 di Camp Nou namun ditaklukan AS Roma 3-0 di Olimpico. Langkah Barcelona di Liga Champions pun terhenti. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dengan Barcelona? Bukankah tim ini dihuni oleh pemain bintang? Mari kita tinjau dari sudut pandang psikologi organisasi. Tim sepakbola, secara mendasar, adalah suatu organisasi yang meraih tujuan sama yaitu kemenangan. Pelatih dan pemain adalah bagian dari organisasi tersebut Menurut penelitian dalam kajian ilmu organisasi, pelatih sepak bola yang sukses sedikitnya menyiapkan dua hal berikut. Pertama, menyiapkan mental para pemain untuk menghadapi situasi terburuk. Kedua, memperkuat komunikasi saat tim tertekan atau kritis. Terkait hal pertama, karena sudah unggul 3-0 pada pertandingan leg pertama di Camp Nou, para pemain Barcelona memang tampak begitu percaya diri. Namun, percaya diri ini sangat berlebih. Mereka begitu yakin bahwa anak-anak The Reds tak akan mampu membalikkan situasi. Dalam sepak bola, apa pun memang bisa terjadi. Mereka pun tak menyangka bahwa anak-anak The Reds begitu bermental juara untuk membalikkan keadaan. Blunder Jordi Alba yang keliru mengantisipasi umpan jarak jauh sehingga bola jatuh ke kaki Sadio Mane membuktikan bahwa anak-anak asuhan Ernesto Valverde begitu over confident. Blunder ini mengakibatkan gol pertama bagi Liverpool. Singkatnya, rasa percaya diri berlebih menjadi bumerang Mereka tak siap menghadapi situasi terburuk ini. Pada musim lalu, Barcelona pun mengalami hal yang sama. Mengacu kepada penelitian tersebut, penyebabnya sama. Yaitu, rasa percaya diri berlebih sehingga tak siap menghadapi agresivitas permainan AS Roma. Hal kedua yang mesti disiapkan oleh pelatih sukses yaitu memperkuat komunikasi saat menghadapi situasi terburuk. Dengan adanya komunikasi antar pemain, membantu suatu organisasi untuk merumuskan langkah nyata menghadapi situasi terburuk. Dan juga, untuk memotivasi para pemain agar dapat mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Di lapangan, Lionel Messi menjadi sentral komunikasi tim. Tentu saja, karena pemain asal Argentina ini adalah seorang kapten tim. Namun, Messi seolah kurang berkomunikasi dengan rekan-rekannya. Terlebih, saat tim tertinggal, ia kurang begitu tampak memotivasi rekan-rekannya. Memang, beberapa kalangan menilai bahwa Lionel Messi kurang mampu menjalankan peran sebagai kapten.s Itulah, penjelasan kekalahan Barcelona dari Liverpool dari sudut pandang psikologi organisasi. Dua hal tersebut memang menjadi hal penting. Namun, terkadang terabaikan. Semoga semakin menambah wawasan kita tentang seluk beluk dunia olahraga sepak bola.
0.00
5
0