Sepak bola / jepang

puncakbukit
Iniesta Utarakan Perbedaan Budaya Sepakbola di Jepang dan Di Spanyol
Para bulan Mei 2018, Andres Iniesta resmi meninggalkan Barcelona untuk hijrah ke Liga Jepang. Pesepakbola yang pernah juga memperkuat timnas Spanyol ini memperkuat klub Vissel Kobe. Bermain di Jepang yang tentunya berbeda secara budaya dari negara asalnya tentunya memberikan pengalaman tersendiri baginya. Salah satunya yaitu dalam hal menyikapi kekalahan. Gelandang yang terkenal dengan umpan akuratnya ini menuturkan bahwa di Jepang kekalahan biasa disikapi dengan sikap yang sangat tenang. Ia sangat merasakannya setelah Vissel Kobe menderita beberapa kekalahan. Ia mengaku terkejut bagaimana respon para pendukung yang tetap bersikap tenang dan tak memberi tekanan apapun. Situasi ini sangat berbeda saat masih menjadi pemain Barcelona. Bila kalah memang selalu mendatangkan tekanan. Termasuk juga di dalam internal tim. Adanya tekanan ini pun biasa kita saksikan bila suatu tim mengalami kekalahan, terlebih bila kalah beruntun. Tekanan biasanya datang dari para pendukung tim tersebut. Iniesta menyadari bahwa ada filosofi tersendiri bahwa kemenangan bukanlah satu-satu tujuan dan juga bagaimana menyikapi kekalahan. Namun, ia mengakui masih belum benar-benar memahami filosofi tersebut. “Ya kami mengalami kekalahan, terus kenapa?”, tuturnya. “Filosofi ini yang sulit saya pahami. pada satu sisi mereka kompetitif tapi pada sisi lain menerima kekalahan dengan cara berbeda”, tambahnya. Sebagai pesepakbola berpengalaman yang telah mengarungi kerasnya kompetisi sepakbola di Eropa, tentunya kemenangan menjadi hal mutlak dan juga tentunya sangat membenci kekalahan. Namun, di Jepang, tentunya ia mesti beradaptasi dengan sudut pandang yang sama sekali berbeda. “Saya sangat sulit beradaptasi agar dapat menerima filosofi tersebut”, tuturnya Iniesta pun merasakan bahwa masyarakat setempat lebih tenang dibandingkan orang-orang Eropa, khususnya masyarakat Spanyol. “Orang Jepang jauh lebih tenang”, tuturnya. Ia sangat merasakan aura ini pada stadion dan lapangan. Ia pun memahami bahwa masyarakat Jepang sangat tenang juga dalam memprotes tanpa perlu mengeluarkan amarah secara berlebihan. Hal terbawa juga dalam pertandingan sepakbola. Karena budaya dan adat yang sangat berbeda, proses adaptasi dirinya dan keluarganya di negara Sakura ini memang tak mudah. Namun, dirinya dan keluarganya saat ini telah mulai terbiasa menyesuaikan dengan budaya kehidupan masyarakat setempat. Untuk memudahkan berkomunikasi dengan rekan-rekannya, mengalami pelajaran Bahasa Jepang dua kali dalam seminggu. Kesimpulannya, sekaligus sebagai point penting, perilaku ini tentunya menjadi hal positif yang dapat kita petik dan juga dapat kita tiru. Perilaku ini pun tentunya mencerminkan bagaimana kedewasaan masyarakat setempat dalam hal menyikapi kekalahan. Menyikapi kekalahan secara sangat emosional tentunya bukanlah hal yang bijak. Menang dan kalah tentunya menjadi hal yang biasa terjadi dalam sebuah pertandingan. Ada saatnya menang dan juga ada saatnya kalah. Yang terpenting, berupaya maksimal untuk meraih kemenangan. Oleh: Rahadian (mas_rahadian@yahoo.co.id) Referensi:http://www.espn.com/soccer/vissel-kobe/story/3773418/barcelona-legend-iniesta-i-struggled-to-adapt-after-joining-vissel-kobehttps://www.bola.com/dunia/read/3892966/andres-iniesta-belum-terbiasa-menerima-kekalahan-di-jepang?related=dable&utm_expid=.lUwk-WBrSZ-xwU5isVLIHA.1&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.co.id%2F Gambar:https://as00.epimg.net/futbol/imagenes/2018/11/26/primera/1543189979_341394_1543190035_noticia_normal.jpg Lihat juga:Seri Steemit Puncak Bukit (https://steemit.com/steemit/@puncakbukit/seri-steemit-puncak-bukit-19-agustus-2018) Puncak Bukit (https://www.puncakbukit.net/)Laporan Olahraga (https://laporan-olahraga.blogspot.com/)
0.00
6
0

Lebih banyak posting akan segera hadir. Tulis sendiri!