Sepak bola / jerman

satriotomo
Aturan 50+1: Alasan Mengapa Bundesliga dan Sepakbola Jerman Kuat
Atmosfer pertandingan di Bundesliga sangat meriah karena fans merasa memiliki klub yang didukungnya (Bundesliga) Siapakah yang memiliki klub sepakbola? Apakah klub sepakbola adalah perusahaan? Untuk orang Inggris dan orang Amerika, jawaban dari pertanyaan tersebut sangat jelas: pemegang saham adalah pemilik klub, dan ya, klub sepakbola adalah perusahaan. Namun orang Jerman memiliki jawabannya sendiri, dan jawaban mereka mencerminkan nilai-nilai ekonomi yang mereka anut. Tidak seperti orang Inggris dan orang Amerika, orang Jerman lebih percaya kepada koperasi ketimbang korporasi, dan mereka lebih percaya demokrasi ketimbang suara segelintir pemegang saham mayoritas. Bagi orang Jerman, sebuah klub sepakbola haruslah dimiliki oleh penggemarnya sendiri, dan klub sepakbola lebih dari sekedar perusahaan. Sebuah perusahaan memiliki pelanggan, namun sebuah klub sepakbola memiliki penggemar. Dan penggemar bukanlah pelanggan, karena penggemar tidak mudah berganti klub seperti pelanggan yang mudah berganti perusahaan. Penggemar tidak berubah mendukung klub lain hanya karena harga tiket pertandingan klub yang didukungnya naik. Karena itulah maka penting menyelaraskan antara kepentingan klub dengan kepentingan penggemarnya. Itulah alasan mengapa Bundesliga memiliki aturan 50+1. Aturan ini mensyaratkan minimal 51% saham klub dimiliki oleh klub dan penggemar itu sendiri. Penggemar harus memiliki suara mayoritas dalam pengambilan keputusan klub. Hal ini berarti tidak mungkin klub-klub Bundesliga bisa diakuisisi oleh investor asing seperti Manchester City, Chelsea, dan Manchester United di Liga Primer Inggris. Contohnya, 81% saham Bayern Munich dimiliki oleh penggemarnya. Hanya 9% saham yang dimiliki oleh investor yaitu Audi dan Adidas. Presiden Bayern Munich adalah orang yang ditunjuk oleh penggemar Bayern Munich untuk menjadi presiden klub. Jadi setiap keputusan yang ia ambil pasti merupakan yang terbaik bagi penggemar. Uli Hoeness suatu waktu ditanya mengapa klub tidak menaikkan harga tiket pertandingan untuk mendapat untung yang lebih banyak. Ia menjawab, "Kami tidak menganggap penggemar sebagai sapi perah. Sepakbolah adalah milik semua orang. Ini yang membedakan kami dengan Inggris". Ini jelas merupakan sisi positif dari aturan 50+1. Penggemar dilibatkan dalam menentukan masa depa klub. Gaji para pemain dikontrol tiap bulan sehingga penggemar tahu pengeluaran yang dilakukan klub tiap bulan. Itulah mengapa klub sangat berhati-hati dalam menggunakan uang, sehingga keadaan keuangan klub-klub Bundesliga menjadi sehat. Ketika UEFA meluncurkan Financial Fair Play Regulation, itu bukan ditujukan untuk klub-klub Bundesliga, melainkan untuk klub-klub EPL, Seria A, La Liga, dan Ligue 1. Sebenarnya ada empat klub Bundesliga yang dibebaskan dari aturan 50+1. Mereka adalah Vfb Wolfsburg yang dimiliki oleh Volkswagen, Bayer Leverkusen yang dimiliki oleh perusahaan kimia Bayer, RB Leipzig yang dimiliki oleh Red Bull, dan Hoffenheim yang dimiliki oleh Dietmar Hopp. Pengecualian bisa didapatkan oleh investor yang secara konsisiten berinvestasi selama lebih dari 20 tahun, dengan kata lain, investasi jangka panjang. Namun pembatasan modal berarti terbatasnya uang. Karena itu seringkali klub-klub Bundesliga membeli pemain dari liga-liga dengan level dibawahnya. Jadi mereka bisa mendapat pemain tanpa harus mengeluarkan banyak uang untuk transfer atau bisa mendapat pemain berkualitas dengan gaji yang tidak terlalu tinggi. Menurut Twentyfour7, klub-klub Bundesliga membelanjakan hanya 38% pendapatan mereka untuk membayar gaji. Berbeda dengan Liga Primer Inggris yang membelanjakan 67% pendapatannya untuk membayar gaji. Dengan pengeluaran yang minimal, klub-klub Bundesliga memiliki dana lebih untuk meningkatkan kualitas akademi mereka dimana pemain-pemain lokal berkualitas dilatih seperti Andre Schurrle, Toni Kroos, Mesut Ozil, Marc Ter Stegen, Lukas Podolski, dll. Inilah yang dikatakan oleh mantan Presiden UEFA Michel Platini tentang aturan 50+1. "Ketika seluruh Eropa memiliki liga yang membosankan, stadion yang setengah kosong dan klub-klub yang diambang kebangkrutan, sepakbola Jerman sanga sehat. Jerman adalah contoh bahwa memiliki kesehatan keuangan, liga yang setara, klub-klub yang kompetitif di level internasional dan tim nasional kelas dunia adalah memungkinkan, dan itu semua karena sepakbola Jerman memiliki konsep dan keberanian untuk bertahan pada nilai-nilai sepakbola tradisional dan akar lokal klub dengan aturan 50+1." Menakjubkan melihat betapa aturan keuangan dapat berpangaruh begitu besar. Apa pendapatmu tentang aturan ini? Bagaimana sebaiknya klub-klub sepakbola di Indonesia dikelola? Artikel ini pertama kali saya tulis dalam bahasa Inggris di 50+1 Rule: The Reason Why Bundesliga and German Football are Great
0.00
8
3

Lebih banyak posting akan segera hadir. Tulis sendiri!