Sepak bola / juventus

rahadian
Buffon Alami Depresi Saat Awal Memperkuat Juventus
Berbicara mengenai penjaga gawang, berbicara juga mengenai seorang Gianluigi Buffon Tak salah memasukkannya dalam jajaran penjaga gawang berkelas dunia. Setelah 17 tahun mengawal gawang Juventus, kini ia hijrah ke Prancis memperkuat Paris Saint Germain. Nah, di balik kehebatannya mengawal gawang, Buffon mengaku mengalami depresi saat awal memperkuat Juventus. Ia didatangkan dari Parma. Lalu, mengapa? Buffon dipandang banyak orang sebagai seorang penjaga gawang hebat. Namun, hanya sedikit orang yang mengenalnya sebagai seorang manusia. "Semua orang bertanya tentang Buffon dan tak ada yang bertanya tentang Gianlugi", tuturnya. "Ini menjadi momen yang sulit", tambahnya. Buffon pun menuturkan bahwa ia merasa banyak orang yang tak peduli dengan dirinya. "Tak ada yang peduli tentang saya, hanya peduli dengan sepakbola yang saya tampilkan", tuturnya Karena begitu depresi, ia tak sanggup menjalani salah satu pertandingannya bersama Juventus. Saat itu, ia meminta Ivano Bordon, pelatih kiper, untuk menyuruh Antonio Chimenti melakukan pemanasan. Chimenti adalah kiper kedua Juventus saat itu. Buffon merasa begitu tak bergairah bermain. "Saya mengalami panik dan tak ingin menjalani pertandingan", tuturnya. Buffon memang berhasil mengatasinya. Selama 17 tahun memperkuat Juventus, ia memberikan beragam gelar. Dia pun mengantarkan Italia menjadi juara Piala Dunia 2006. Dia pun paham bahwa depresinya menjadi bagian kariernya. Bila tak mampu mengatasinya, mungkin saja tak akan menjadi penjaga gawang hebat. "Saya paham bahwa itu menjadi momen penting antara menyerah dan menghadapi rasa tak aman yang kita semua miliki", tuturnya Kesimpulannya, penjaga gawang juga manusia, punya rasa punya hati. Popularitas dan kehebatan terkadang menjadikan manusia merasa sangat depresi.
0.00
5
0

rahadianDiperbarui
Ronaldo Tak Tahu Kelemahannya
0.00
6
0