Seni bela diri / indonesia

rahadian
Miftahul Jannah dan Khabib Nurmagomedov, Dua Atlet yang Menunjung Tinggi Prinsip Islam
Khabib Nurmagomedov dan Miftahul Jannah Miftahul Jannah seorang atlet blind judo Asian Paragames 2018 yang didiskualifikasi karena menolak melepaskan kerudungnya saat akan bertanding. Mengacu kepada peraturan judo, mengenakan kerudung membahayakan keselamatan atlet judo saat bertanding. Sehari sebelumnya, Khabib Nurmagomedov berhasil memenangkan pertarungan melawan Connor McGregor. Keduanya memang tak saling mengenal. Keduanya pun menggeluti olahraga yang berbeda. Namun, keduanya adalah atlet yang menunjung tinggi prinsip dan ajaran Islam. Karena didiskualifikasi, atlet blind judo asal Aceh mengaku merasa kecewa. Namun, kekecewaan ini telah tertutupi oleh keyakinannya. Baginya, keyakinan menjadi segala-galanya. “Kecewa sudah tertutupi oleh keyakinan Miftah”, tuturnya, dilansir dari situs Tribun News. “Keyakinan berada di atas segala-galanya”, tambahnya. Sikap Miftahul yang menolak melepaskan kerudung ini pun mendapatkan apresiasi positif dari berbagai kalangan. Kini, ia beralih ke olahraga catur. Miftah sudah mengenal olahraga catur sejak usia empat tahun Sementara itu, Khabib seorang petarung UFC asal Rusia ang dikenal teguh memegang prinsip dan ajaran Islam. Khabib pernah mengutarakan bahwa berserah diri kepada Tuhan lebih baik daripada pertarungannya di atas ring oktagon. “Bagi saya, tak ada hal yang lebih penting selain berserah diri kepada Allah”, tuturnya, dilansir dari situs CNN Indonesia. Petarung yang lahir pada tanggal 20 September 1988 ini pun bukan seorang perokok dan peminum. “Bukan disebabkan karena saya adalah seorang atlet, tapi karena saya adalah seorang muslim”, tutur Khabib. Dalam Islam, dilarang keras meneguk minuman keras. Bila tak merokok, akan lebih banyak mendatangkan manfaat. Khabib pun pernah menolak segelas wiski pemberian McGregor saat keduanya menghadiri konferensi pers sebelum pertarungan Khabib pun mengutarakan bahwa ia sering beribadah di masjid untuk meminta ampun kepada Tuhan. Sebabnya, setiap orang tak pernah luput dari kesalahan. “Setiap orang membuat kesalahan”, tuturnya. “Dan kita harus meminta Allah mengampuni kita”, tambahnya. Kesimpulannya, Khabib dan Miftahul adalah dua atlet yang menunjung tinggi prinsip Islam. Bagi mereka berdua, prinsip ini menjadi harga mati yang tak dapat ditawar-tawar. Gelar juara tak akan bermakna bila melanggarnya. Dunia pun telah melihatnya. Manusia hanya bisa berusaha maksimal dan juga berdoa agar mendapatkan hasil yang lebih baik. Hasil pertandingan sesungguhnya menjadi keputusanNya
0.00
9
8

galihditaDiperbarui
STPDN JAMAN NOW
0.00
1
1